Minggu, 12 Desember 2010

RI Baru Bisa Menganut Satu Jemis Gula 10 Tahun Lagi

Indonesia baru bisa memungkinkan menerapkan satu jenis gula di pasar dalam negeri hingga 10 tahun kedepan.

Indonesia baru bisa memungkinkan menerapkan satu jenis gula di pasar dalam negeri hingga 10 tahun kedepan. Saat ini masih ada dikotomi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi umum dengan gula untuk kebutuhan gula industri yaitu gula rafinasi.

"Indonesia masih menganut dualisme gula, sepuluh tahun mendatang baru bisa hilang," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur di kantor Kadin, Kamis (9/12/2010).

Natsir menjelaskan mengapa baru sepuluh tahun lagi Indonesia bisa menganut satu gula seperti kebanyakan negara-negara lain di dunia. Alasannya karena pada periode itu Indonesia sudah mengalami swasembada gula, revitalisasi sudah rampung dan pembangunan pabrik gula baru sudah beroprasi penuh.

Natsir menuturkan adanya wacana memasukan gula rafinasi ke pasar umum saat ini ditengah ancaman kekurangan gula konsumsi sangat tidak relevan. Selain harus menabrak aturan yang sudah ada, juga akan berakibat pada nasib petani tebu yang selama ini menyuplai bahan baku GKP ke pabrik-pabrik gula PTPN.

"Kalau dualisme ini dihilangkan sekarang kasihan petani," katanya.

Selama ini gula kristal putih untuk konsumsi umumnya memiliki kualitas dibawah dari gula rafinasi dari sisi warna atau kepekatan warna gula (icumsa) karena diolah di pabrik tua. Selain itu, gula rafinasi memiliki harga yang kompetitif karena diproses dipabrik yang moderen dan baru dengan bahan baku raw sugar yang relatif murah.

Beras HItam Kurani Radang

Beras hitam sedang jadi bintang nutrisi dunia. Berwarna hitam pekat dengan rasa sedikit manis. Beras ini banyak ditanam di Jawa Tengah dan Jabar. Ternyata dibandingkan beras merah dan putih, beras ini lebih unggul khasiatnya.

Beras hitam sedang jadi bintang nutrisi dunia. Berwarna hitam pekat dengan rasa sedikit manis. Beras ini banyak ditanam di Jawa Tengah dan Jabar. Ternyata dibandingkan beras merah dan putih, beras ini lebih unggul khasiatnya.

Beras hitam memang tak sepopuler beras biasa dan juga beras merah. Namun demikian, beras ini sudah mulai banyak digunakan sebagian orang. Tidak hanya karena kandungan serat nya baik untuk mereka yang tengah berdiet, tapi juga beberapa manfaat lainnya yang bisa langsung dirasakan.

Seperti hasil dari sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Mendel Friedman dan rekan-rekannya di Departemen Pertanian AS Western Regional Research Center di Albany, California. Menemukan bahwa makanan pokok sebagian besar orang di dunia ini ternyata mampu mengurangi peradangan akibat alergi, asma dan juga penyakit lainnya.

Dalam penelitian sebelumnya juga, kelompok peneliti ini mengidentifikasi beberapa manfaat kesehatan potensial dari beras hitam. Bran atau kulit luar dari biji-bijian, yang dibuang selama pengolahan beras merah untuk menghasilkan sejenis beras putih.

Perlakuan ini juga dilakukan terhadap beras hitam, ternyata dapat menekan pelepasan histamine yang menyebabkan inflamasi atau peradangan. Dengan menyisipkan sedikitnya 10 % beras hitam dalam menu setiap hari ternyata dapat menurunkan peradangan seperti iritasi kulit, alergi, dan juga jenis peradangan lainnya.

Selain mengatasi peradangan, beras hitam juga berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, memperbaiki kerusakan sel hati, mencegah gangguan fungsi ginjal, mencegah kanker/ tumor, memperlambat penuaan, sebagai antioksidan, membersihkan kolesterol dalam darah, dan mencegah anemia.

Nah, kalau sudah tahu begitu banyak manfaat dari beras hitam tak ada salahnya menyisipkan beras hitam di salah satu menu harian Anda. Beras hitam bisa dibeli di toko makanan sehat atau pasar swalayan besar. Beras ini bisa juga dicampur dengan beras putih.

Rabu, 08 Desember 2010

KKP Merilis Udang Vaname Jenis Baru, Vaname Global Gen

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis udang vaname jenis baru yang diberi nama �Vaname Global Gen� di Lombok Utara

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis udang vaname jenis baru yang diberi nama �Vaname Global Gen� di Lombok Utara, Senin (22/11). Udang jenis baru ini disebut-sebut memiliki keunggulan khususnya dalam hal ketahanan terhadap serangan virus yang selama ini menghantui petambak.

�Udang ini lebih baik dan bebas dari 9 jenis virus yang berbahaya bagi udang,� kata Fadel Muhammad, dalam siaran persnya hari ini. Penemuan jenis udang vaname terbaru itu dilakukan oleh tim perekayasa dari pelaku usaha pembibitan dari PT Bibit Unggul.

Usaha pemuliaan yang dilakukan oleh PT Bibit Unggul merupakan yang pertama dilakukan pihak swasta di Indonesia. Dari segi kelayakan produksi dan pembennihan, Fadel mengaku Vaname Global Gen akan mampu mendongkrak produksi udang khususnya vaname.

KKP sekarang mesti menambah kecepatan produksi udang vaname, pasalnya sampai 2014 nanti udang spesies ini ditarget mengalami kenaikan 16%. Dua tahun belakangan produksi mengalami ancaman karena tingginya tingkat kegagalan panen akibat penyakit termasuk juga adanya kendala
produksi pada sentra produksi udang nasional.

Fadel berharap, tahun 2014 nanti produksi udang bisa mencapai 699 ribu ton, yang diharapkan disuplai dari 188 ribu ton udang windu dan 511 ribu ton dari udang vaname.

Menurut data Food and Agricultural Organization (FAO) 2010, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dengan total ekspor udang vaname sebesar 140 ribu ton untuk tahun 2007. Di tahun 2008, peringkat ekspor udang vaname naik menjadi ke-3 setelah China dan Thailand. Tahun itu, total ekspor mencapai 168 ribu ton atau mumbul sebesar 21%.

Saat ini, KKP berupaya untuk menggeser eksportir udang terbesar yakni China dan Thailand yang diketahui sangat handal dalam melakukan perakitan jenis-jenis unggul yang tahan penyakit.

Salah satu faktor penting dalam mengembangkan usaha perikanan budidaya udang tersebut adalah penyediaan induk unggul dan benih bermutu. Jika terjadi penurunan kualitas induk dan benih, maka seluruh produksi akan mengalami penurunan kualitas. Benih yang unggul itu diharapkan juga mampu tahan terhadap serangan virus yang selama ini menghantui petambak.

Selasa, 30 November 2010

BPW IV ISMPI Luruk Dispertanak



Bangkalan-HARIAN BANGSA
Sedikitnya 30-an orang aktivis mahasiswa mendatangi Dinas Pertanian dan Peternakan (dispertanak) Bangkalan, kemarin (24/9). Puluhan aktivis yang mengatasnamakan dari Badan Pengurus Wilayah IV Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (BPW IV ISMPI) itu menuntut Dispertanak memperhatikan nasib petani yang kian terpuruk.
Selanjutnya, puluhan massa aktivis itu melanjutkan orasi yang intinya memojokkan aparat Dispertanak. Mereka juga menuding Dispertanak sama sekali tidak berpihak terhadap petani yang semakin tahun nasibnya semakin terpuruk.“Kita semua tahu bahwa petani adalah ujung tombak sektor pertanian yang terbukti berhasil menyelamatkan perekonomian bangsa dari krisis moneter tahun 1997 dan krisis global tahun 2008. Tapi ironisnya, sektor (pertanian) ini juga tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” ujar Syafi’I koordinator aksi.

Menurut Syafii, bentuk ketidakseriusan pemerintah itu dibuktikan dengan belum adanya proteksi yang jelas terhadap kelangsungan hidup para petani. Selain itu, kemudahan akses pinjaman modal bagi para petani juga belum nampak.Menanggapi tuntutan tersebut, Elija Rosiana, Kepala Dispertanak mengaku sangat apresiatif terhadap aksi para mahasiswa pertanian. Namun demikian, mengenai persoalan petani yang kesannya minor, menurut Eli jangan diartikan bahwa hal itu karena dispertanak tidak berbuat banyak.Menurut Eli, Dispertanak bukanlah satu-satunya institusi yang berkompeten terhadap sektor pertanian khususnya di level kabupaten bangkalan.

“Ada penyuluhan, dalam hal ini dilakukan oleh penyuluh pertanian yang bernaung pada Badan Ketahanan Pangan. Selain itu, terkait dengan infrastruktur khususnya jaringan irigasi, untuk jaringan primer itu ada (keterlibatan) dinas Bina Marga dan pengairan yang mengelola. Sedangkan untuk jaringan irigasi desa dan jaringan irigasi usaha tani, itu memang dikelola oleh kita (dispertanak). Demikian pula mengenai sistem tata niaga pertanian, lagi-lagi itu bukan urusan kita melainkan dinas perindustrian dan perdagangan,” urainya.(ekr)

Senin, 29 November 2010