Tampilkan postingan dengan label Seputar ISMPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar ISMPI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2016

MUNAS dan MUKERNAS Ke XI, Universitas Pattimura Ambon


Mari sukseskan agenda Nasional Badan Pengurus Pusat Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (BPP ISMPI)

MUSYAWARAH NASIONAL &
MUSYAWARAH KERJA NASIONAL Ke XI Tahun 2016
dengan tema
"Rekonsiliasi ISMPI Sebagai Komitmen Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan Berbasis Sumber Daya Kepulauan"
yang akan diselenggarakan oleh
Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon pada:

Hari/tanggal   : Senin-Sabtu, 21-27 Februari  2016 
Tempat           : Universitas Pattimura Ambon

Proposal dan Undangan dapat diunduh DISINI

Sabtu, 24 September 2011

PRESS RELEASE BERSAMA MAHASISWA PERTANIAN INDONESIA AKSI HARI TANI NASIONAL 2011

Krisis harga pangan yang terjadi sekarang ini, sebagai akibat dari diterapkannya sistem neolibarilisme. Melalui WTO dan Free Trade Agreement. Akibatnya pertanian terkonsentrasi pada pertanian ekspor, dan monokultur. Dewasa ini makanan tidak lagi sejatinya untuk makanan manusia, tetapi makanan telah diutamakan sebagai bahan industri agrofuel, dan keperluan perusahaan peternakan. Makanan juga menjadi bahan spekulasi perdagangan. Sesungguhnya kedaulatan pangan itu adalah hak dari segala bangsa di dunia ini untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya untuk berkecukupan pangan, dan berbagi bahan pangan secara sukarela dan bergotong royong dengan bangsa-bangsa lainnya. Bahwa hak dari bangsa-bangsa di dunia ini telah berkurang bahkan hilang untuk bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Pemerintah Indonesia telah salah arah dalam mengambil kebijakan pembangunan pertanian dan pangan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyerahkan kebijakan pangan Indonesia pada perangkap perdagangan bebas pangan dunia, ke tangan para spekulan pangan. Untuk menegakkan kedaulatan pangan dan mengakhiri kelaparan di Indonesia dengan ini kami rakyat Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Pertanian Indonesia menyatakan bahwa:
1. Pemerintah Indonesia harus segera mencabut pembebasan impor bea masuk ke Indonesia, terutama impor bahan pangan, dan melarang impor pangan hasil Genetik Modified Organisme (GMO). Untuk jangka panjang harus membangun suatu tata perdagangan dunia yang adil dengan mengganti rezim perdagangan dibawah World Trade Organizations (WTO), dan berbagai Free Trade Agrement (FTA). Menjamin ketersediaan benih lokal dengan memajukan pengetahuan para petani dan mengganti UU 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman yang banyak mengkriminalkan petani. Sistem distribusi pangan yang liberal mengakibatkan ketidakstabilan dan maraknya spekulasi harga pangan.
2. Pemerintah Indonesia harus melaksanakan reforma agraria dan landreform untuk memastikan hak setiap petani untuk menguasai tanah pertanian, sesuai dengan konstitusi Indonesia pasal 33 UUD 1945 dan UUPA No. 5 tahun 1960, dan pemerintah Indonesia harus mencabut undang-undang; Undang-undang no. 7/2004 tentang sumber daya air, Undang-undang no. 18/2004 tentang perkebunan, serta Undang-undang no. 27/2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
3. Pemerintah Indonesia harus menempatkan pertanian rakyat sebagai soko guru dari perekonomian di Indonesia, dan pemerintah Indonesia harus menghentikan pengembangan food estate. Untuk menghambat ini salah satunya adalah dengan merevisi UU 7/1996 tentang Pangan. Pemerintah Indonesia harus mengembangkan pertanian berkelanjutan yang menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi ketergantungan input luar, dan memandirikan pertanian di Indonesia.
4. Pemerintah Indonesia harus membangun industri nasional berbasis pertanian, kelautan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat kaya raya ini. Sehingga memungkinkan usaha-usaha mandiri, pembukaan lapangan kerja dan tidak tergantung pada pangan impor.
5. Pemerintah Indonesia segera memfungsikan Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk menjadi penjaga pangan di Indonesia, dengan memastikan mengendalikan tata niaga, distribusi dari hasil produksi pangan petani Indonesia, khususnya padi, kedelai, jagung, kedelai, dan minyak goreng. Pemerintah Indonesia juga harus menjadi pengendali seluruh impor pangan yang berasal dari luar negeri.
6. Pemerintah Indonesia perlu memastikan adanya perlindungan sosial, menjamin pemenuhan pangan, pendidikan, kesehatan bagi semua warga negara, khususnya para buruh dengan menjamin kepastian kerja dan menghapus sistem upah murah. Menghapuskan UU No.13/2004 yang tidak menjamin kesejahteraan buruh dan mempermudah sistem kerja outsourcing.
7. Pemerintah Indonesia dengan segera membuat program khusus menyediakan pangan bagi rakyat miskin, dengan mengutamakan makanan bagi para ibu hamil, menyusui, juga bagi perempuan-perempuan yang berstatus janda, dan tidak memiliki pekerjaan dan juga bagi anak-anak balita.
8. Pemerintah Indonesia harus menyusun dan menerapkan secara menyeluruh dan berkesinambungan adanya program agroeducation sejak dini bagi seluruh generasi muda Indonesia agar terbangun kebanggaan komprehensif untuk terus membangun kedaulatan pangan nasional.
9. Pemerintah Indonesia berkewajiban mengembalikan citra bangsa ini sebagai Negara agraris dan menjadikan sektor pertanian sebagai leading sektor pembangunan bangsa.

FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA PERTANIAN INDONESIA

Senin, 20 Juni 2011

ISMPI dan FKMPI di Acara AEE 2011 Universitas Brawijaya

Dalam kegiatan ini terdiri dari simposium dan seminar lokal yang dilaksanakan pada 11-12 Juni 2011 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Brawijaya. Kegiatan  simposium  yang  bertemakan  “Pergerakan  Mahasiswa Agrokomplek  dalam Merumuskan  Pertanian  Indonesia”  merupakan  suatu kegiatan  diskusi  yang  dilaksanakan  oleh  perwakilan  undangan  dari  setiap  Induk Organisasi Mahasiswa Nasional Sejenis (IOMS) yang berbasis agrokomplek yang tergabung dalam FKMPI (Forum Kajian Mahasiswa Pertanian Indonesia).

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung  PPI  Universitas  Brawijaya Malang.  Setiap  IOMS membuat  makalah yang  nantinya  akan  didiskusikan  dalam  komisi  –  komisi  yang  telah  dibagi. Komisi I membahas tentang “Ketahanan Pangan”, komisi II membahas  tentang  “Sosial  Ekonomi  Pertanian”,  komisi  III  tentang  “Teknologi Pertanian dan Agroindustri”  dan  komisi  IV membahas  tentang  “Pengembangan Budidaya Pertanian”. Hasil diskusi dari masing - masing komisi dalam dirapat paripurnakan, hasil dari rapat paripurna tersebut akan dibuat menjadi rumusan pemikiran dan pandangan mahasiswa mengenai pertanian di Indonesia. 

Kegiatan  aksi  turun  ke  petani  merupakan  suatu  kegiatan  yang mengajak  secara  langsung mahasiswa  terjun menghadapi masalah yang ada di kalangan petani. Kegiatan  ini dilaksanakan  di Dsn. Mendek,  Dsa.  Sri  Gading,  Kec.  Lawang. Disini  mahasiswa akan  menyelesaikan  permasalahan  yang  ada  di  dusun  tersebut.  Salah  satu permasalahan  yang  akan  coba  diseselsaikan  adalah  masalah  kesulitan  air  yang dialami penduduk dusun  tersebut saat masa kemarau. Pada saat kemarau warga dusun Mendek  guna  mencukupi  air  harus  naik  turun  bukit  hal  ini  dikarebakan sumber  mata  air  yang  dapat  mencukupi  kebutuhan  sehari -hari  saat  musim kemarau  ketinngiannya  terletak  150 m  dibawah  dusun.  Kegiatan  lain  yang  juga  dilaksanakan adalah sharing  dengan  para petani yang ada di  daerah  tersebut mengenai masalah - masalah yang  timbul di  lapangan.

Sabtu, 18 Juni 2011

FKMPI Menghadiri Petisi Kedaulatan Pangan Rakyat Indonesia



SEMARANG. Setelah sebelumnya digelar di berbagai wilayah di Indonesia, Petisi Kedaulatan Pangan Rakyat Indonesia (PKPRI) kembali dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah, Kamis lalu (16/06). Kegiatan yang tepatnya dilaksanakan di Gedung Graha Pena Jawa Pos ini diprakarsai oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah dan menghadirkan elemen gerakan masyarakat sipil, mahasiswa, akademisi, hingga pedagang kaki lima.

Sumaeri, Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Jawa Tengah menyebutkan bahwa kerugian yang dialami oleh petani di lereng gunung terutama di daerah Jawa Tengah semakin meningkat seiring meningkatnya kebutuhan sosial budaya, tatanan politik semakin menjengkelkan, APBN/APBD dihambur-hamburkan oleh elit politik, sedangkan rakyat semakin miskin. Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini terjadi tetesan air mata di mana-mana, hal itu terjadi karena struktur negara yang salah fungsi.

“Kalau kita melihat tragedi 1998, itu terjadi karena bobroknya moral dalam segala bidang dan karena adanya perdagangan internasional yang dilakukan oleh elit politik untuk kepentingan pribadi yang mengakibatkan munculnya Korupsi-Kolusi-Nepotisme di segala aspek kehidupan. Rakyat semakin miskin sehingga sulit untuk melakukan kedaulatan”, ungkap Sumaeri.


Sementara itu, Henry Saragih, Ketua Umum SPI yang juga hadir dalam acara ini menyampaikan bahwa selama 13 tahun era reformasi di Indonesia, ketidakberdayaan yang dialami oleh petani semakin meningkat. Petani kecil mengalami kerugiaan yang menjulang tinggi akibat adanya perdagangan yang tidak berdaulat. Indonesia masih menjadi negara pengekspor barang mentah sedangkan negara ini kaya raya akan hasil bumi dan harus rela mengekspor, mirisnya rakyat sendiri tidak mampu membeli harga bahan mentah tersebut. Angka kemiskinan di Indonesia membengkak menjadi 32 juta jiwa, dan itu belum termasuk masyarakat yang hampir miskin.


“Oleh karena itu rakyat Indonesia harus bangkit dari keterpurukan. Negara Indonesia yang kaya raya akan hasil bumi ini harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan petani (baca: rakyat), bukan untuk perusahaan-perusahaan besar, apalagi perusahaan asing,” papar Henry.


“Melalui Petisi Kedaulatan Pangan Rakyat Indonesia ini, mari kita konsolidasikan kembali kekuatan rakyat dan mengajak setiap orang untuk bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah di negara tercinta ini. Insya Allah, pada 24 September nanti seluruh wilayah di Indonesia telah selesai ikut menandatangai dan mendeklarasikan petisi ini” tambah Henry.


Hadir juga dalam acara ini perwakilan dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) Semarang dan Yogyakarta, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), LPPNU (Lembaga Pengembangan dan Penelitian Nahdhatul Ulama), FKMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa Pertanian Indonesia), mahasiswa (UNSOED, UMS,), Omah Tani Semarang, perwakilan buruh dan nelayan, GP Anshor, Koalisi Perempuan Indonesia, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan perwakilan media setempat.


Acara petisi ini juga menghadirkan jajanan pasar yang serba tradisional seperti: arem-arem, lemper, nagasari, kacang tanah, dan pisang rebus. Hal ini sesuai dengan budaya petani yang memanfaatkan bungkus daun pisang yang lebih ramah lingkungan karena bisa didaur ulang bahkan bisa dijadikan pupuk organik.

Minggu, 01 Mei 2011

ISMPI dan FKMPI di Pertemuan IOMS Pertanian Indonesia di Unsoed 2011

Pertemuan IOMS Pertanian Indonesia (Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis) kali ini dituan rumahi oleh IMTPI dan dilaksanakan di Universitas Jenderal Soedirman pada tanggal 18-20 Maret 2011. Agenda Temu ini di mulai dari selayang pandang tentang FKMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa Pertanian Indonesia) yang dipaparkan oleh RS. Soeroyo (Sekjend BPP ISMPI) selaku kordinator FKMPI dan Junaedi (Sekjend IMTPI).

FKMPI selaku forum komunikasi mahasiswa pertanian indonesia didirikan dengan tujuan membangun silaturahmi yang lebih instensif antar IOMS pertanian guna menciptakan dunia pertanian yang lebih ideal yang di deklarasikan di Untirta Serang pada tanggal 15 September 2009 oleh terdiri dari IOMS Pertanian, yang hadir saat deklarasi yaitu ISMPI, FKK HIMAGRI, IMTPI, IMATETANI, POPMASEPI, HMPTI dan FOKUS HIMITI. Selain deklarasi berdirinya FKMPI, pada pertemuan tersebut juga menghasilkan tuntutan bersama yang disuarakan untuk Hari Pangan Sedunia dan menghasilkan suatu rekomendasi kepada Presiden RI saat itu yaitu Bapak SBY tentang kriteria menteri Pertanian RI versi mahasiswa pertanian.

Setelah pemaparan singkat mengenai FKMPI oleh RS. Soeroyo, perwakilan IOMS yang hadir memaparkan selayang pandang mengenai masing - masing IOMS. Adapun organisasi yang hadir adalah ISMPI, Ikatan Mahasiswa Teknologi Pertanian Indonesia (IMTPI), Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI), Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia (IMATETANI), Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPSEMAPI), Ikatan Mahasiswa Peduli Pangan dan Gizi (IMPPG), Ikatan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI), dan Forum Mahasiswa Agroteknologi /Agroekoteknologi Indonesia (FORMATANI).

Pertemuan ini juga membahas rencana program bersama selanjutnya yaitu audiensi dengan Kementerian Pertanian dan DPR RI Komisi IV mengenai fluktuasi harga produk pertanian, diversifikasi pangan dan bea impor. Pertemuan IOMS selanjutnya dilaksanakan di UGM pada bulan September 2011 dengan tuan rumah IMATETANI.


Sabtu, 30 April 2011

WUJUDKAN KEDAULATAN DAN KETAHANAN PANGAN

Pangan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Jika kebutuhan akan pangan tidak terpenuhi maka akan timul berbagai permasalahan ekonomi dan sosial dalam masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia, mestinya menjadikan permasalahan pangan menjadi prioritas utama dalam menjaga kesejahteraan rakyatnya.

Gejolak harga, lahan produksi pangan yang menyempit, dan jaminan keaamanan bahan pangan adalah bagian yang harus diperhatikan. Fenomena impor beras adalah bukti ketergantungan kita pada baan pangan ini. Sektor pertanian yang mestinya sebagai leading pembangunan dituntut untuk menyediakan ahan pangan yang satu ini, sementara saprodi yang selalu melonjak menjadi ancaman utama bagi petani. Kekayaan alam indonesia yang beragam ditengah keberagaman budaya, memberi gambaran akan ciri khas dan selera bahan pangan sebagai sumber energi. Ini selayaknya menjadi modal dasar untuk melepas ketergantungan pada satu ahan pangan saja. Permasalahan lainnya ialah sebahagian varian bahan pangan pun telah dikonversi menjadi bahan energi sintetik berupa biofuel, dan bioetanol.

Ini akan memberikan ancaman yang sangat besar untuk menyediakan keutuhan pangan aik di Indonesia maupun di dunia. Maka dari itu, kami dari GEMPPPA dan KAP-ISMPI menyerukan agar permasalahan pangan ini tetap diperhatikan. Sebagai langkah utama ialah:

1. Galang program diversifikasi pangan non beras.
2. Jaminan Harga bagi Petani
3. Peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluh pertanian
4. Optimalisasi program pertanian organik secara menyeluruh
5. Perketat pengawasan konversi bahan pangan ke energi.
6. Regulasi konversi lahan dengan ditetapkannya kawasan lahan abadi yang eksistensinya dilindungi oleh undang-undang

GEMPPPA
(Gerakan Mahasiswa Pertanian Peduli Pangan)

*HIMAGRO UNHAS *MISEKTA UNHAS *HIMAGRO UMI
*BEM FAPERTA UMI *BEM FAPERTA Univ. 45 makassar
*BEM FAPERTA UNISMUH Makassar

KAP-ISMPI
(KOMISI ADVOKASI PERTANIAN – IKATAN SENAT MAHASISWA PERTANIAN INDONESIA)

Kamis, 17 Maret 2011

Dua Tantangan Hadang Pengembangan Tanaman Biotek


Kementerian Pertanian (Kementan) menggaris bawahi setidaknya terdapat dua tantangan besar yang harus dicarikan solusinya oleh para pemangku kepentingan yang langsung terlibat dalam pengembangan tanaman biotek /rekayasa genetika atau Genetically modified or.


Kementerian Pertanian (Kementan) menggarisbawahi setidaknya terdapat dua tantangan besar yang harus dicarikan solusinya oleh para pemangku kepentingan yang langsung terlibat dalam pengembangan tanaman biotek /rekayasa genetika atau Genetically modified organism (Gmo).

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurhti mengatakan, pemerintah menyodorkan dua tantangan besar dalam pengembangan tanaman biotek di Tanah Air. Pertama, proses transformasi sistem pertanian tidak menggantungkan pada beberapa perusahaan atau beberapa negara. Menurutnya, saat ini adopsi teknologi yang diterapkan masih dalam skala kecil.

"Namun, apabila dibutuhkan dalam skala besar, maka kita harus mengimpornya.Itu pilihan yang harus kita buat dan bagaimana caranya untuk mempercepatnya," terang Bayu di Jakarta, Selasa (15/3/2011) 

Tantangan kedua, sambung Bayu, berkenaan dengan keamanaan dan perlindungan kepada para petani juga terhadap perusahaan yang mengeluarkan benihnya. Merujuk pengalaman masa lalu, produk trangenik tidak luput dari ancaman pemalsuan bibit. Tindak pemalsuan bibit itu telah merugikan para petani dalam hal produksi. "Pihak perusahaan juga dirugikan karena barangnya dipalsukan orang lain," jelasnya.

Meski begitu, menurut dia, prinsipnya pemerintah menyambut positif terhadap pengembangan tanaman biotek di Tanah Air. Pasalnya, selama ini Indonesia sudah mengimpor hasil produksi tanaman biotek itu sepertihalnya jagung dan kedelai. "Kira-kira sekitar 80-90 persen kedelai yang kita impor itu Gmo, sudah beberapa negara yang sudah menggunakan benih Gmo, bahkan Eropa yang selama ini menentang penggunaan Gmo tapi beberapa negara sudah memanfaatkan teknologi ini," ujarnya.

Bayu menjelaskan, sebetulnya Indonesia sudah mengimplementasikan sistem teknologi pada gula dan jagung melalui hibridanya. Namun, untuk padi belum sampai mengadopsi sistem transgenik. Menurutnya, Indonesia membutuhkan terobosan teknologi baru. Sejak dirintis revolusi hijau seperti penggunaan benih, pupuk pada dekade 1970-an, praktis beluma ada terobosan teknologi pertanian baru. "Misalnya di Argentia, 100% pangannya sudah menggunakan teknologi Gmo," terang Bayu.

Ketua Dewan International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) Clive James mengatakan, hingga kini 29 negara telah mengadopsi teknologi pertanian Gmo itu. Setidaknya 10 negara industri besar Amerika Serikat , Kanada, Australia dan Cina telah menerapkannya. Sementara, 10 negara lainnya merupakan negara berkembang, di antaranya Brazil, India, Argentina, Paraguay dan Afrika Selatan. Mereka menggunakan tanaman biotek untuk mendongkrak hasil tanamannya.


Sumber: kbrbsns

Kamis, 10 Februari 2011

PANGAN ADALAH PERSOALAN HIDUP DAN MATI




Oleh : R.S.Soeroyo.Jr

Sekretaris Jendral Badan Pelaksana Pusat Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (Sekjen BPP ISMPI)
Koordinator Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (FKMPI)



“Aku bertanja kepada mu,sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala- petaka dalam waktu yang dekat kalau soal makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidup atau mati…. tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “aanpakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar – besaran,setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka” (Bung karno tahun 1952 di fakultas Pertanian Universitas Indonesia (sekarang IPB).


Semua orang butuh makan, Semua orang perlu makan dan banyak perselisihan, perampokan serta pencurian hanya karena masalah makan.

Bung Karno sebagai Funding Father bangsa ini sudah mengingatkan tentang pentingnya pangan bagi kehidupan bangsa ini, bila perut sudah lapar akal sehat pun tidak berjalan atau slogan yang sering kita dengar “logika tanpa logistik jadinya anarkis”
Pangan memegang peranan yang sangat penting pada kehidupan dan secara otomatis orang – orang yang berprofesi di dalam bidang pangan atau yang lebih kita kenal dengan petani akan mendapat kehormatan yang setinggi – tingginya dalam suatu bangsa atau Negara karena tanpa Petani akan terjadi bencana kelaparan

Makin Banyak orang yang butuh makan, akan makin banyak yang berprofesi menjadi Petani namun ironisnya di Indonesia tidak banyak orang yang ingin menjadi Petani karena paradigma yang berkembang di masyarakat bahwa petani itu jorok, miskin dan profesi yang tidak mempunyai prospek cerah kedepannya.

Survey Saung Tani institute tahun 2010 di provinsi banten sangat mengkhawatirkan. jumlah mahasiswa yang menekuni ilmu ekonomi diatas 20.000 mahasiswa namun jumlah mahasiswa yang menekuni ilmu pertanian di bawah 1000 mahasiswa dan saat diadakan survey tentang cita - cita pada 50 siswa Sekolah Dasar di provinsi banten mayoritas menjawab ingin menjadi Dokter, Tentara, Guru dan tidak ada yang menjawab ingin Menjadi Petani, ini membuktikan sangat sedikit minat generasi muda untuk menjadi petani sedangkan umur petani sekarang di dominasi 40 tahun keatas.



Bila hal ini terus di biarkan 20 tahun kemudian akan terjadi malapetaka dan bencana kelaparan karena mayoritas generasi muda sekarang akan menjadi dokter, tentara, guru, ekonom, birokrat dan sedikit yang jadi petani.

Kita juga melihat bahwa hari ini Indonesia masih ketergantungan bahan pangan dari impor seperti beras, gandum, jagung, gula dan kedelai sehingga layak bila Indonesia kita sebut sebagai bangsa pengimpor pangan dan pengekspor manusia
Bila kita cinta kepada kekasih kita, cinta kepada anak kita,cinta kepada cucu kita, cinta kepada Indonesia maka kita harus membangun pertanian Indonesia, peka terhadap masalahan pertanian di sekitar kita dan mengkonsumsi produk pertanian hasil petani - petani Indonesia, dengan pertanian yang baik akan menciptakan pangan yang melimpah “gemah ripah loh jinawi”, maka tidak akan ada lagi ketakutan terhadap bencana kelaparan.

Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tangguh, pekerja keras, pantang menyerah dan jujur untuk menciptakan bangsa yang makmur dan sejahtera.

Mari bersama kita ucapkan terima kasih kepada para Petani yang telah berjuang keras menyediakan pangan untuk bangsa ini dan semoga kedepan kesejahteraan petani dapat meningkat dan mendapatkan penghormatan setinggi - tingginya karena Petani adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa.

Pertanian Jaya Indonesia Sejahtera.




Selasa, 01 Februari 2011

SEKILAS TENTANG KAP-ISMPI


(Pelatihan Advokasi Pertanian Nasional 2010 di UPN Yogyakarta)

Mahasiswa Indonesia merupakan elemen bangsa yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai tonggak masa depan bangsa,  maka dibutuhkan langkah-langkah kongkret dan sistematis dan terencana dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Mahasiswa Pertanian Indonesia yang secara sadar merupakan bagian integral mahasiswa Indonesia mempunyai tanggung jawab moril untuk melaksanakan peran-peran kemahasiswaan. Peran-peran tersebut kemudian dilakukan bersama-sama dengan masyarakat sesuai dengan keilmuan yang dimiliki.
Sadar akan peran, posisi dan tanggung jawab Mahasiswa Pertanian perlu menyatukan diri dalam sebuah kelembagaan sebagai wadah pengoptimalisasian potensi yang dimiliki. Komisi Advokasi Pertanian dengan cita-cita mulia mewujudkan masyarakat adil makmur merupakan sebuah langkah nyata dalam proses tersebut.
Sebagai lembaga integral dari Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia Maka KAP-ISMPI (Komisi Advokasi Pertanian ISMPI) hadir untuk
  1. meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual
  2. meningkatkan kesadaran mahasiswa untuk mewujukan fungsinya dalam mengaktualisasikan hak dan tanggung jawabnya di tengah kehidupan kampus, masyarakat dan bangsa
  3. menjadi fasilitator dan advocator di tengah masyarakat tani pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya
Serta mewujudkan insan akademis pembaharu demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
KAP-ISMPI dibentuk dan dideklarasikan pada tanggal 5 Agustus 2010 di UPN Veteran Yogyakarta. dan memandatkan saudara IHSAN ARHAM (Univ. Hasanuddin Makassar) sebagai ketua tim kerja pembentukan KAP-ISMPI.

Kamis, 27 Januari 2011

ISMPI Desak Pengusutan Penjualan Lahan Gambut di Pujud

20 ribu hektar lahan gambut di Pujud, Rohil ditenggarai dijual aparatur desa. ISMPI mendatangi Polda dan Kejati Riau, mendesak kasus tersebut diusut tuntas.

Riauterkini-PEKANBARU- Sekitar 30 aktivis Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) Wilayah Sumatera berdemo di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau dan Polda Riau, Rabu (25/8/10). Aksi tersebut digelar untuk memprotes eksplotiasi besar-besara di lahan gambut di Desa Pujud, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir.

Secara bergantian para aktivis ISMPI menyampaikan orasi. Mereka mendesak adanya penertiban perusakan hutan gambut di Pujud. Berdasarkan Perda Riau No.10 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan tersebut merupakan hutang lindung gambut.

"Faktanya, sejak tahun 2000 kawasan tersebut dijual oleh kepala desa dan kroni-kroninya. Saat ini sudah sekitar 20 ribu hektar lahan gambut yang dijual," ujar salah seorang orator.

Dalam pernyataan sikap tertulisnya, ISMPI menyampaikan lima poin tuntutan. Pertama, mendesak aparatur pemerintah mengusut tuntas setiap tindak perusakan hutan di Riau. Kedua, mendesak penindakan tegas terhadap penjarah ataupun mafia hutan di Riau. Ketiga, meminta Bupati ROhil untuk menikdan kepala desa Pujud dan aparaturnya yang telah menjual lahan gambut seluas 20.000 hektar. Terakhir, meminta agar ada upaya kongkrit pengembalian fungsi hutan sebagamana mestinya.

Setelah pernyataan sikap dan tuntutan diterima pihak Kejati dan Polda Riau, maka ISMPI mengakhiri aksi dan kembali ke kampus dengan tertib.***(mad)

dikutip dari : http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=31384

AntaraNews.com : Aksi Hari Tani Ke 50 Thn di Istana Negara




Ribuan orang petani dari seluruh Indonesia mendatangi Istana Negara, Jumat (24/9). Mereka menuntut pemerintah melakukan pembagian 9,6 juta hektar lahan pertanian.

Ribuan petani yang tergabung dalam berbagai aliansi bersama dengan mahasiswa, tumpah ruah didepan Istana negara, Jakarta, Jumat (24/9). Mereka melakukan aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional ke 50. 
Para demonstran membawa berbagai spanduk, poster dan berorasi untuk meminta pemerintah  memperhatikan nasib para petani. Di antaranya datang dari Serikat Petani Indonesia (SPI), Aliansi Petani Indonesia (API), Wahana Masyarakat Tani Indonesia, Konsorsium Pembaharuan Agraria dan puluhan elemen masyarakat tani lainnya.


Hingga pukul 11.00 WIB, demonstrasi berlangsung secara tertib dan damai. Meski demikian, terlihat ratusan aparat kepolisian dibantu TNI bersenjata lengkap berjaga-jaga di sekitar Istana Negara. Termasuk menyiapkan mobil water canon untuk mengantisipasi bila demonstrasi berlangsung  ricuh. Dalam pernyataan sikapnya, para  demonstran menyebutkan bahwa meski sudah 50 tahun Hari Tani diperingati secara nasional, namun nasib petani di Indonesia masih menjadi kaum yang tetap terpinggirkan. Hal itu disebabkan karena banyak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kaum petani. Berdasarkan data BPS (Sensus Pertanian 2003), menyatakan jumlah rumah tangga petani naik menjadi 25,4 juta atau terjadi kenaikan sebesar 5,4 juta rumah tangga dalam satu dekade terakhir. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat. Namun jumlah rumah tangga petani kecil dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektare, baik milik sendiri maupun dengan cara menyewa, malah meningkat dari 10,8 juta keluarga tahun 1993 menjadi 13,7 juta keluarga tahun 2003. Data BPS juga menunjukkan bahwa luas pertanian padi di Indonesia pada tahun 2010 hanya tinggal 12.870 juta hektar atau menyusut 0,1 persen dari tahun sebelumnya. Luas lahan pertanian secara keseluruhan diperkirakan saat ini berjumlah 19.814 juta hektar atau menyusut 13 persen dibanding tahun 2009. 


Para demonstran pun meminta pemerintah untuk tidak melakukan impor beras, karena dinilai sangat merugikan para petani. Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor pangan terbesar di dunia saat ini.
Sebetulnya, permintaan kaum tani itu wajar dan rasional karena kebijakan pertanian pemerintahan SBY tidak memberikan lahan dan peluang kerja bagi mereka. Lantas, mereka harus hidup dari mana?



Sejumlah ekonom menilai di Indonesia sudah terjadi kemiskinan struktural yang meniadakan ruang bagi masyarakat miskin, terutama kaum tani dan nelayan serta buruh, untuk meningkatkan taraf hidup.
Kaum tani meminta redistribusi dengan segera 9,6 juta hektar tanah. Karena sejak 1960 atau sejak UU Pokok Agraria hingga saat ini tidak pernah terealisasikan. Demonstrasi di depan Istana Merdeka itu diawali dengan membentangkan spanduk besar berukuran 4 kali 8 meter.

Dalam demo itu mereka membawa spanduk berisi berbagai tuntutan antara lain 'Lindungi petani', 'Hentikan kriminalisasi petani' dan 'Tolak RUU yang berpotensi merugikan petani'. Para demonstran mengenakan kaos putih bertuliskan ‘50 Tahun UU PA (Pokok Agraria) Laksanakan Pembaharuan Agraria’.

Saat ini 7,3 juta hektar lahan terlantar. Sementara petani Indonesia harus bersaing dengan investor asing. Harus diakui, selama ini pembangunan di Indonesia bias ke sektor urban dan cenderung tidak dikembangkan ke sektor pertanian.
“Pemerintah harus mengedepankan pembangunan sektor pertanian untuk mendorong industri, bukan sebaliknya,” ungkap Revrisond Baswir, ekonom UGM.
Bahkan, kebijakan sektor pertanian selama ini dengan pemberian subsidi pupuk dan bibit lebih ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan. Akibatnya kesejahteraan petani tidak terangkat.

“Mestinya pemerintah membangun tata niaga hasil pertanian, sehingga petani tidak merugi.Untuk apa produksi besar, jika petani tidak menikmati hasilnya, karena tata niaganya tidak menguntungkan untuk petani,” tukas Revrisond.
Revrisond menilai konsep trickle down effect (pola menetes ke bawah) gagal. Pasalnya, konsep itu memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, baru kemudian pemerataan. Di beberapa negara, seperti China dan India, pertumbuhan ekonominya tercatat melampaui 7%, namun ketimpangan pendapatan semakin lebar.

Untuk itu, gagasan ekonomi kerakyatan seharusnya dilaksanakan agar kehidupan kaum tani, nelayan dan rakyat bawah tertolong, bukan seperti saat ini. Karena 80% rakyat hidup di pedesan dan sektor agraris, sehingga harus fokus pada pertanian kemudian sektor perikanan dan industri kecil.

Maukah pemerintah? “Pemerintah mudah mengucapkan pro-rakyat, pro-job, pro-poor, tapi tidak mudah atau bahkan emoh melaksanakan. Buktinya, dana irigasi dan subsidi pupuk dikurangi dan kaum tani terjerembab,” tambah Rizal Ramli, mantan Kabulog dan Menko Perekonomian.

Pemerintah Wajib Tingkatkan Anggaran Pertanian 2010

ANTARA NEWS JATIM
Surabaya - Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia/ISMPI dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia/HKTI Jawa Timur, meminta Pemerintah Pusat meningkatkan nilai anggaran sektor pertanian 2010 karena selama ini nasib petani kurang mendapatkan perhatian pemerintah.

"Semisal, dari aspek proteksi, kredit, maupun kebijakan lain. Namun, kami belum mengkaji berapa angka kenaikan ideal bagi peningkatan anggaran di sektor pertanian," kata Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia/ISMPI, R. S. Soeroyo. Jr, dihubungi di Banten, pascamelakukan aksi peringatan Hari Tani Nasional di depan Istana Negara, Jumat.

Menurut dia, pertanian merupakan sektor yang berperan sangat penting bagi pembangunan perekonomian nasional. Apalagi, sektor ini dapat bertahan terhadap terpaan krisis tahun 1997 dan krisis ekonomi global tahun 2008.

Saat itu, mayoritas negara berkembang mengalami krisis pangan tetapi Indonesia bisa mewujudkan swasembada beras walaupun banyak diliputi oleh kepentingan politik negara pada waktu itu.

"Kondisi tersebut menjadi bukti empiris jika sektor pertanian telah menyelamatkan perekonomian bangsa terutama terhadap ketersediaan pangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak," ujarnya.

Upaya kenaikan anggaran pertanian mendatang, jelas dia, karena sektor tersebut mendapatkan anggaran terkecil dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN 2010 yang diumumkan pemerintah (16/8) di Rapat Paripurna MPR/DPR/DPD RI.

Situasi tersebut mengakibatkan masalah klasik di dunia pertanian Indonesia seperti minimnya infrastruktur pertanian dan penerapan teknologi tepat guna, kurangnya penyediaan benih bermutu, dan kasus kelangkaan pupuk ketika musim tanam petani kerap terjadi.

"Di samping itu, minimnya anggaran bagi pertanian ikut mempengaruhi belum berjalannya penerapan reforma agraria dengan baik sehingga sering terjadi kasus sengketa lahan sampai bergantungnya Indonesia dengan perdagangan bebas," katanya.

(dikutip dari http://www.antarajatim.com/lihat/berita/43844/pemerintah-wajib-tingkatkan-anggaran-pertanian-2010)

Puluhan Mahasiswa ISMPI & BEM Faperta Unswagati Blokir Jalur Pantura

CIREBON, (Pikiran Rakyat).-
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) Cirebon memblokir jalur pantura, Jumat (24/9).

Aksi blokir jalur pantura tersebut dilakukan saat menggelar unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Agraria Sedunia. Meski hanya sekitar 30 menit, aksi blokir jalur pantura sempat membuat arus lalu lintas, tepatnya di perempatan Jalan Pemuda-By Pass, macet selama beberapa saat.
Seusai memblokir jalur pantura, aksi massa dilanjutkan ke Gedung Studio RRI yang berlokasi hanya beberapa ratus meter dari perempatan Jalan Pemuda. Massa sempat meminta agar pihak RRI menyiarkan secara langsung pernyataan sikap mereka. Namun setelah dijelaskan oleh salah seorang karyawan RRI soal prosedur penyiaran, massa akhirnya setuju hanya merekam pernyataan sikap dan akan disiarkan dalam berita RRI.

Sebelumnya, massa juga mendemo Gedung Bulog Subdivre Cirebon yang juga berlokasi tidak jauh dari perempatan Jalan Pemuda dan Kampus Unswagati. Aksi unjuk rasa digelar sebagaiekspresi ketidakpuasan mahasiswa atas kebijakan pemerintah di bidang pertanian yang tidak berpihak kepada para petani.
Menurut koordinator aksi, Luki Supriatna, dalam APBN 2010 bidang pertanian merupakan penerima alokasi anggaran yang paling kecil.

"Selama ini pemerintah kurang serius memperhatikan sektor pertanian sehingga banyak sekali persoalan yang terjadi seperti infrastruktur pertanian dan penerapan teknologi tepat guna yang masih minim. Penyediaan benih bermutu juga masih kurang," kata Luki.

Sementara itu, puluhan warga petani hutan yang tergabungdalam Serikat Hijau Indonesia (SHI) Desa Loyang, Kec. Terisi, Kab. Indramayu, mendatangi Kantor Perum Perhutani setempat, Jumat (24/9).
Mereka menuntut kepada pihak Perum Perhutani setempat untuk bersikap adil kepada petani penggarap hutan. Selain itu, meminta sepenuhnya lahan hutan untuk dikelola.

"Bukan itu saja tuntutannya. Kami juga meminta klarifikasi terhadap jajaran Perhutani Indramayu karena dugaan ada oknum mandor Perhutani yang selalu meminta jatah setiap panen sebesar Rp 200.000 kepada petani," kata koordinator umum Suhermanto. (A-92/A-96)"*

(dikutip dari : http://bataviase.co.id/node/394760)

Metrotvnews.com : Aksi Hari Tani KBM Fakultas Pertanian UNTIRTA & ISMPI di Kantor Gubernur Banten




Headline News / Nusantara / Jumat, 24 September 2010 14:12 WIB
Metrotvnews.com | (ANTARA Banten)


Serang  - Fakultas Pertanian  Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) menggelar aksi nasional dalam memperingati Hari Tani.

"Aksi ini di gelar serentak di seluruh Indonesia untuk memperingati Hari Tani," kata Indra Anggi Lesmana selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (Faperta) Untirta di temui di Serang, Jumat.

Puluhan mahasiswa Faperta dikerahkan dalam aksi yang berlangsung di Kampus Untirta dan Kantor Gubernur Banten tersebut.

"Ada sekitar 70 mahasiswa yang ikut dalam aksi ini, ditambah dengan anggota ISMPI," kata Indra menjelaskan.

Dalam aksi tersebut mereka menuntut diantaranya adalah pengawasan terhadap distribusi pupuk bersubsidi, peningkatan pengawasan pengelolaan dan perbaikan infrastruktur pertanian serta pemberian akses permodalan bagi petani serta perbaikan sistem tata niaga pertanian.

"Pertanian di Banten merupakan sektor yang paling menjanjikan dibanding sektor-sektor lainnya, karena terdapat banyak faktor yang menunjang sektor ini seperti struktur kesuburan tanah di wilayah Banten yang sangat baik," kata Indra.

Indra juga mengatakan bahwa walaupun pada kenyataannya seperti itu, pada tahun 2009 Banten hanya mampu menyumbangkan berasnya ke BULOG nasional sebesar 3,25 persen.

"Sangat miris apabila kita sebagai mahasiswa mengetahui hal tersebut," ungkap Indra.

Selain itu Indra juga mengatakan bahwa permasalahan pertanian di Banten merupakan permasalahan yang sangat klasik dan sulit dipecahkan karena kurang adanya kepedulian dan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Banten.

"Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemprov Banten di sektor pertanian saat ini kurang memihak terhadap kesejahteraan hidup petani," kata Indra menjelaskan.

Ia berharap pertanian di masa yang akan datang dapat dikembangkan dengan menaikkan kesejahteraan dan harkat martabat hidup petani.

Rabu, 05 Januari 2011

BURUH TANI, MAHASISWA, RAKYAT MISKIN KOTA



Lagu Buruh Tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin Kota  - DOWNLOAD LAGU -


Buruh Tani, Mahasiswa,Rakyat Miskin Kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia


Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa ORBA


Marilah kawan mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebasan


Di bawah kuasa tirani
Kususuri garis jalan ini
Berjuta kali turun aksi
Bagiku satu langkah pasti


Buruh Tani, Mahasiswa,Rakyat Miskin Kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia


Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa ORBA


Marilah kawan mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebasan


Di bawah kuasa tirani
Kususuri garis jalan ini
Berjuta kali turun aksi
Bagiku satu langkah pasti


Berjuta kali turun aksi
Bagiku satu langkah pasti
Bagiku satu langkah pasti

Jumat, 17 Desember 2010

Indonesia Akan Krisis Pangan JIka Lahan Pertanian Akan Bertambah

Agaknya pemerintah harus bekerja keras agar target swasembada beras pada 2014 bisa tercapai. Pasalnya, kendala produksi beras lokal yang dialami petani cukup pelik.


Agaknya pemerintah harus bekerja keras agar target swasembada beras pada 2014 bisa tercapai. Pasalnya, kendala produksi beras lokal yang dialami petani cukup pelik. 

Selain anomali iklim yang mengakibatkan paceklik, banyak infrastruktur pertanian yang telah rusak sehingga sistem pengairan menjadi terganggu. Sementara, usaha perbaikan infrastruktur kerap mengalami kendala seperti pembebasan lahan, anggaran terbatas dan lingkungan yang rusak mengakibatkan potensi pembangunan infrastruktur baru terhambat.

Karena itulah, hingga kini Indonesia masih harus terus mengimpor beras dari Thailand maupun Vietnam. "Vietnam dan Thailand memiliki lahan persawahan yang luas sehingga produksinya besar," kata Sutarto Alimoeso Direktur Utama Perum Bulog, kemarin (14/12).

Kedua negara pengekspor beras ini memiliki luas panen per kapita dua kali hingga tiga kali lipat dibanding Indonesia. Tak heran, Thailand dan Vietnam mampu mengekspor berasnya ke luar negeri.

Bila Indonesia ingin menjadi negara eksportir beras layaknya Thailand dan Vietnam, luas panen perkapita Indonesia minimal seluas 19,26 juta hektare (ha). Tahun ini, luas panen perkapita Indonesia hanya sekitar 13,08 juta ha.

Dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237 juta orang, luas panen perkapita per tahun sebesar 552 meter persegi (m2). Luas panen sebesar itu hanya mampu memproduksi 5,13 ton per ha Gabah Kering Giling (GKG). 

Setelah menjadi beras, GKG sebanyak itu hanya akan menjadi 178,85 kilogram (kg) beras. Sedangkan konsumsi beras perkapita per tahun 139,15 kg. Selisih ketersediaan beras masih sangat minim, sehingga Indonesia saat ini tidak mungkin mengekspor beras.

Untuk ituah, program swasembada beras dengan strategi peningkatan produktivitas, strategi perluasan areal, strategi pengamanan hasil produksi, serta strategi penguatan kelembagaan dan pembiayaan harus serius dijalankan pemerintah. "Melalui program ini kami berusaha untuk menjaga ketahanan pangan dan memperbaiki stabilitas harga beras dalam negeri," kata Sutarto.

Perluasan lahan memang menjadi masalah yang harus segera dipecahkan. Soalnya, jika tidak ada penambahan lahan, sementara jumlah penduduk Indonesia naik 1,4% per tahun dan alih fungsi lahan setiap tahun 110.000 ha, maka tidak sampai 2030 Indonesia akan mengalami kekurangan pangan.






Selasa, 30 November 2010

BPW IV ISMPI Luruk Dispertanak



Bangkalan-HARIAN BANGSA
Sedikitnya 30-an orang aktivis mahasiswa mendatangi Dinas Pertanian dan Peternakan (dispertanak) Bangkalan, kemarin (24/9). Puluhan aktivis yang mengatasnamakan dari Badan Pengurus Wilayah IV Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (BPW IV ISMPI) itu menuntut Dispertanak memperhatikan nasib petani yang kian terpuruk.
Selanjutnya, puluhan massa aktivis itu melanjutkan orasi yang intinya memojokkan aparat Dispertanak. Mereka juga menuding Dispertanak sama sekali tidak berpihak terhadap petani yang semakin tahun nasibnya semakin terpuruk.“Kita semua tahu bahwa petani adalah ujung tombak sektor pertanian yang terbukti berhasil menyelamatkan perekonomian bangsa dari krisis moneter tahun 1997 dan krisis global tahun 2008. Tapi ironisnya, sektor (pertanian) ini juga tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” ujar Syafi’I koordinator aksi.

Menurut Syafii, bentuk ketidakseriusan pemerintah itu dibuktikan dengan belum adanya proteksi yang jelas terhadap kelangsungan hidup para petani. Selain itu, kemudahan akses pinjaman modal bagi para petani juga belum nampak.Menanggapi tuntutan tersebut, Elija Rosiana, Kepala Dispertanak mengaku sangat apresiatif terhadap aksi para mahasiswa pertanian. Namun demikian, mengenai persoalan petani yang kesannya minor, menurut Eli jangan diartikan bahwa hal itu karena dispertanak tidak berbuat banyak.Menurut Eli, Dispertanak bukanlah satu-satunya institusi yang berkompeten terhadap sektor pertanian khususnya di level kabupaten bangkalan.

“Ada penyuluhan, dalam hal ini dilakukan oleh penyuluh pertanian yang bernaung pada Badan Ketahanan Pangan. Selain itu, terkait dengan infrastruktur khususnya jaringan irigasi, untuk jaringan primer itu ada (keterlibatan) dinas Bina Marga dan pengairan yang mengelola. Sedangkan untuk jaringan irigasi desa dan jaringan irigasi usaha tani, itu memang dikelola oleh kita (dispertanak). Demikian pula mengenai sistem tata niaga pertanian, lagi-lagi itu bukan urusan kita melainkan dinas perindustrian dan perdagangan,” urainya.(ekr)